Senin, 06 Mei 2013

Dewi Mata Iblis



Judul buku ; Dewi Mata Iblis
Pelukis : Yanthi
Jumlah buku : 18
Jumlah halaman : 562 halaman
Kondisi : bekas taman bacaan. setiap buku masih lengkap sampul depan belakang.
Pernah dibundel, sudah dibongkar bundelnya, menjadi satuan.
Harga 18 buku 65.000,-
SUDAH TERJUAL

Selasa, 26 Maret 2013

Bagaimana Nasib Komik Silat Indonesia Kelas Dua ?



Bagaimanakah sejarah komik Indonesia ? Marilah kita lihat perjalanannya dari tahun ke tahun sebagai berikut :

Komik Indonesia era tahun 1930an

Dimanakah dapat kita temukan komik yang pertama muncul di Indonesia ? Ternyata di majalah Belanda seperti De Java Bode dan D’orient. Tapi komiknya bukan karya orang Indonesia, melainkan karya orang luar negeri. Judulnya antara lain : Flippie Flink and Flash Gordon.

 Tersebutlah seorang Tionghoa yang membuat komik dengan tokoh bernama Put On, bernama Kho Wan Gie yang pertama kali membuat komik Indonesia. Put On terbit dengan teratur di surat kabar Sin Po. Sejak itulah Put On menginspirasi banyak komik strip lainnya. Komik Strip selalu ada di majalah Star (1939 - 1942), yang selanjutnya berganti nama menjadi Star Weekly.

 Kota lain bagaimana ? Nah, tersebutlah seorang bernama Nasroen A.S yang berdomisili dikota Solo (Surakarta),membuat komik strip berjudul : Mentjcari Poetri Hidjaoe yang dimuat di mingguan Ratu Timur.

Yogyakarta bagaimana ? Ada orang bernama Abdulsalam, membuat komik strip berjudul "Kisah Pendudukan Jogya". Komik strip ini dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Komik Kisah Pendudukan Jogja ini kemudian dibukukan oleh harian “Pikiran Rakyat” dari Bandung. Sebagian pengamat komik berpendapat bahwa inilah buku komik pertama-tama oleh artis komik Indonesia.

 Generasi 1940-50an

Sekitar akhir tahun 1940an, banyak komik-komik dari Amerika yang disisipkan sebagai suplemen mingguan suratkabar. Diantaranya adalah komik seperti Tarzan, Rip Kirby, Phantom and Johnny Hazard. Kemudian penerbit seperti Gapura dan Keng po dari Jakarta, dan Perfects dari Malang, mengumpulkannya menjadi sebuah buku komik. Tokoh komik selanjutnya adalah Siauw Tik Kwie. Siauw membuat komik Sie Djin Koei, legenda pahlawan Tiongkok. Komik Sie Djin Koei berhasil melampaui popularitas Tarzan di kalangan pembaca lokal.

 Tokoh komik Indonesia berikutnya adalah R.A. Kosasih, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Komik Indonesia, memulai karirnya dengan mengimitasi Wonder Woman menjadi pahlawan wanita bernama Sri Asih. RA. Kosasih kemudian menjadi sangat terkenal setelah berhasil membuat komik Mahabarata dan Bharatayuda. Terdapat banyak lagi karakter pahlawan super yang diciptakan oleh komikus lainnya,diantaranya adalah Siti Gahara, Puteri Bintang, Garuda Putih and Kapten Comet, yang mendapatkan inspirasi dari Superman dan petualangan Flash Gordon.

 Generasi Tahun 60 - 70 an

Bagaimana dengan komikus dari luar Jawa ? Hebat juga. Di kota medan muncul komikus dengan ketrampilan menggambar yang tinggi seperti : Zam Noeldyn,Taguan Hardjo, Djas. Komik mereka mengandung banyak nilai estetika dan nilai filosofi. Pelukis komik tersebut mengangkat cerita rakyat Sumatra kedalam komik. akhirnya thema ini kemudian amat digemari klayak komik di Indonesia sepanjang tahun 1960an hingga 1970an. Komik Indonesia pada saat itu, bertemakan wayang, superhero, dan humor-kritik.

 Selanjutnya muncul komikus bernama Jan Mintaraga yang hadir dengan komik bertemakan roman remaja. Karyanya berjudul Tembok dan Sebuah Noda Hitam serenta menimbulkan gelombang yang besar di jagat perkomikan Indonesia. Serentetan komikus baru muncul mengikutinya dengan tema roman remaja juga seperti : Zaldy Armendaris, Sim (Simon Iskandar alias Sim Kim Toh), Jeffry (Iwan Suhardi), dan Hans Jaladara. Pada masa ini ada komikus yang menekuni bidang lucu-lucu yaitu : Kho Wan Gie membuat Sopoiku, Leo, dan Indri Sudjono.

 Pada masa ini dari Jogjakarta muncul juga komik Super Hero Indonesia yang dibuat oleh Hasmi denhgan tokohnya Gundala, dan Godam yang dilukis oleh Wid N.S (Widodo Noor Slamet), dan Gina karya Gerdi WK.

 Kemudian muncul gelombang besar dikawasan komik Indonesia era tahun 70 an yaitu : Komik Silat. Tokoh yang cemerlang namanya dalam komik jenis silat adalah : Ganes Th. Ganes membuat tokoh rekaan yang buta tapi tak terkalahkan bernama : Barda Mandrawata, atau lebih populer sebagai : Sibuta Dari Gua Hantu. Kisah petualangan Sibuta amat panjang sebab daerah yang dijelajahinya hingga jauh keluar pulau Jawa. Sibuta berjalan mulai dari Borobudur ke Pantai Sanur kemudian ke Gunung Tambora, Teluk Bone, Donggala, Tinombala, Larantuka, pulau Rakata dll.

Tentu saja kesuksesan Ganes Th ini segera diikuti oleh pelukis lain seperti : Teguh Santosa, bahkan sang maestro komik roman : Jan Mintaraga. Jan membuat banyak komik silat dengan gambar dan cerita yang bagus, dengan nama pelukisnya hanya : Jan. Entah kenapa nama belakangnya : Mintaraga tidak dicantumkan pada karya-karya komik silatnya.

Selain itu membanjirlah pelukis muda lainnya ikut membuat komik silat, seperti : Yongky, Yanty, Sindhu, Kelana, Pros, Pris, Henky dll. Komikus inilah yang nasibnya kurang beruntung. Selagi baru muncul sudah terjadi kemunduran pada dunia komik di Indonesia. Nampaknya publik jenuh dengan karya-karya yang membludak namun temanya itu-itu saja. Perkelahian sengit dengan pedang, bahkan ada komikus yang membuat gambar-gambar kurang senonoh wanita dengan pakaian minim dalam komiknya. Hal ini tentu saja dimaksudkan untuk mendongkrak pemasaran karyanya. Tapi bisa juga karena pada masa itu memang media massa juga banyak memasang foto-foto merangsang dari wanita model yang agak terbuka.

Demikianlah akhirnya perjalanan komik Indonesia yang ambruk tanpa bisa bangkit lagi hingga sekarang. di toko buku hanya ada komik Jepang semata. Komik Indonesia itu menjadi klasik atau antik sekarang ini. Tokoh-tokohnya pun sudah tua-tua, sakit-sakitan bahkan ada yang sudah meninggal dunia seperti : Jan Mintaraga, Kho Wan Gie, Siauw Tik Kwie, Kwik Ing Hoo dan RA Kosasih.

Pada saat ini yang masih tertolong adalah komik Indonesia kelas satu. Komik apakah itu ? Komik Indonesia kelas satu adalah komik yang pada masa terbitnya  mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat. Apa judulnya : Komik karya Ganes Th, Wid NS, Hasmi, Kwik Ing Hoo, Zam Noeldyn, Gerdi Wk, RA Kosasih dll mendapat kehormatan untuk diburu oleh kolektor komik.

Mereka berani membayar mahal. Komik Wiro, karya Kwik Ing Hoo khabarnya sudah mencapai harga 10 juga sekarang ini. Tentu saja kolektor komik tersebut tidak bodoh. Mereka memasang ketentuan yang sulit yaitu : Harus Cetakan Pertama dan harus mulus.

Beberapa komik lama karya pelukis terkenal seperti Ganes Th, Wid NS telah mengalami cetak ulang hingga beberapa kali. Prosesnya diurus oleh penggemar komik Indonesia. Beruntung saat ini masih ada Andy Wijaya yang berjuang keras mengumpulkan komik lama Indonesia, dan menerbitkan ulang beberapa judul yang ternama. Selain itu masih ada nama lain seperti : Hendy Ismono, David Eddy Haris, Layman Handyawan, Fajar Widhi

Namun bagaimana nasib komik silat Indonesia kelas dua ? Komik yang tidak beruntung mendapat kesempatan Cetak Ulang, tidak diburu kolektor (kecuali peneliti, sejarawan, penulis buku barngkali)? Apakah karyanya jelek ?

Sungguh pedih hati ini melihat nasib komik silat Indonesia kelas dua tersebut.Mereka mendapat predikat KW2 aduh duh duh duh duh.

Majapahit Membara


Judul buku : Majapahit Membara
Pelukis : Teguh Santosa
Tebal : 192 halaman

Gambar diatas tidak jelas karena buku dilapis dengan sampul plastik.
TERJUAL

Gerombolan Barong Mataram


Gerombolan Barong Mataram
Karya : Teguh Santosa
Tebal 480 halaman
TERJUAL